BNI Asset Management: Investor Muda RI Meningkat Pesat, Literasi Keuangan Jadi Tantangan
Jumat, 29 Mei 2026
JAKARTA, investortrust.id – BNI Asset Management menilai kesadaran generasi muda Indonesia terhadap pengelolaan keuangan dan investasi terus meningkat dalam dua hingga tiga dekade terakhir, seiring pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial.
Direktur BNI Asset Management, Ade Yusriansyah, mengatakan bahwa berbagai platform digital seperti YouTube dan Instagram membuat masyarakat semakin mudah mengakses informasi mengenai pengelolaan keuangan, mulai dari strategi membangun arus kas, budgeting, hingga investasi. “Kalau coba dipahami lebih dalam, apa pun jenis strategi pengelolaannya, ada satu kesamaannya, yaitu investasi,” ujar Ade dalam keterangannya yang dikutip Jumat (29/5/2026).
Menurut dia, investasi merupakan penanaman modal atau uang untuk memperoleh keuntungan di masa depan. Namun, investasi juga harus mempertimbangkan aspek risiko, tujuan keuangan, serta kemampuan modal masing-masing individu.
Ade menilai usia muda merupakan fase paling strategis untuk membangun fondasi finansial jangka panjang. Ia mengutip pandangan Morgan Housel dalam buku The Psychology of Money yang menyebutkan bahwa keberhasilan Warren Buffett tidak hanya berasal dari kemampuan investasinya, tetapi juga karena memulai investasi sejak usia muda.
“Para ekonom dan pakar keuangan menekankan bahwa usia muda adalah fase paling strategis untuk membangun fondasi finansial jangka panjang,” katanya.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor pasar modal Indonesia meningkat secara signifikan dari 7 juta investor pada 2021 menjadi 25 juta investor per Maret 2026. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan rata-rata 32,5% per tahun.
Ade menyebut pasar modal Indonesia kini tidak lagi didominasi institusi, melainkan digerakkan oleh investor individu yang mencapai 99,77% dari total investor. Dari sisi demografi, lebih dari 80% investor individu berasal dari kelompok usia di bawah 40 tahun, yakni generasi Z dan milenial. “Dari angka tersebut, bisa disimpulkan bahwa sudah ada awareness dari generasi muda Indonesia terkait pengelolaan keuangannya,” ujar Ade.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan partisipasi investor muda juga diiringi sejumlah risiko, terutama rendahnya tingkat literasi keuangan yang berpotensi memicu keputusan investasi emosional.
Ade mengutip hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang menunjukkan kesenjangan antara inklusi keuangan dan literasi keuangan melebar menjadi 14,05%, dibandingkan dengan 9,59% pada 2024.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat menggunakan layanan keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami manfaat dan risiko produk keuangan yang digunakan. Selain itu, Ade menyoroti pola hidup konsumtif yang dapat menghambat pencapaian tujuan investasi dan meningkatkan risiko terjerat pinjaman online.
Ia juga mengingatkan risiko konsentrasi investasi yang terlalu tinggi pada satu instrumen tertentu, seperti kripto atau deposito berbunga rendah yang tidak mampu mengimbangi inflasi.
Untuk itu, Ade membagikan sejumlah strategi pengelolaan portofolio bagi investor muda. Pertama, membangun literasi keuangan secara berkelanjutan agar mampu memahami produk dan jasa keuangan serta mengambil keputusan investasi dengan lebih bijak. “Literasi keuangan merupakan kekuatan, dan bisa membantu kita membuat keputusan keuangan yang lebih bijak dan percaya diri melalui semua tahapan kehidupan,” katanya.
Kedua, investor perlu menerapkan prinsip diversifikasi portofolio atau don’t put all your money in one basket melalui kombinasi berbagai jenis aset seperti saham blue-chip, pasar uang, obligasi, properti, hingga emas. Ketiga, disiplin dalam mengatur keuangan dinilai menjadi faktor penting untuk mencapai tujuan investasi jangka panjang.
Salah satu langkah sederhana yang disarankan adalah mencatat pengeluaran harian dan tidak menunda pengelolaan keuangan sejak dini. “Dengan disiplin yang kuat, literasi yang baik, dan diversifikasi portofolio, semua potensi risiko tersebut dapat diminimalkan,” tutup Ade.